Jumat, 19 Oktober 2018

Onboard Sang Bintang Krian di Tanah Priangan

Sugeng Patas W 7256 UZ & W 7122 UZ
di terminal Cicaheum Bandung

Satu tahun lalu telah dibuka rute baru PO Sugeng Rahayu divisi bus Patas yaitu melayani rute Surabaya-Madiun-Solo-Yogyakarta-Tasikmalaya-Bandung pulang pergi. Saat dibuka jalur ini masyarakat terkhususnya Bandung dan Tasik sangat antusias karena pilihan mereka yang menuju kota-kota di Jawa Tengah hingga Jawa Timur lebih bervariasi.

Kebetulan bulan Mei kemarin saya dan teman saya, Kurnia, menjajal bus ini dari Bandung menuju Solo via jalur selatan Jawa Barat. Ini merupakan pengalaman pertama kalinya karena sebelumnya jika onboard bus malam kami selalu melewati jalur Pantura dan tol Cipali. Perjalanan dimulai dari kota Jakarta dengan naik Kereta Api Serayu Pagi, saat sampai dikota Bandung langsung naik angkutan umum menuju terminal Cicaheum dan menaiki Sugeng Rahayu pemberangkatan jam 3 sore.

Kereta Api Serayu Pagi

Sampai dilokasi jam masih menunjukkan pukul 2 siang, kami melihat bus Sugeng Rahayu yang tersedia dijalur. Pas dikunjungu ternyata bus ber nopol W 7256 UZ ini mengalami gangguan vanbelt (dikasih tau sama crew) berefek pada jadwal berangkat. Bus dengan bodi Jetbus2+ SHD ini batal dijalanin karena seharusnya dijadwal berangkat menuju Surabaya jam 1 siang, diperkirakan oleh crewnya bus akan diberangkatkan sore hari nanti sekitar jam 5.

Foto bareng

Unit yang lagi trouble

Sehabis itu kami langsung foto-foto disekitaran bus dan ternyata datanglah Sugeng Rahayu dengan bodi Jetbus2+ non HD. Kami berdua sempat heran sekaligus senang karena bus yang didapat ini tanpa memiliki sekat dan panel pemisah kaca depan kayak bus HDD atau SHD. Ditambah bus ber nopol W 7122 UZ ini pengganti dari si W 7158 UZ bodi Legacy SR2 HD Prime yang kala itu ditahan oleh instansi terkait.

Bus cadangan W 7122 UZ Jetbus2+ no HD
Pengganti W 7158 UZ Legacy SR2 HD Prime 

Interior bus

Akhirnya kami membeli tiket masing-masing seharga 135 ribu rupiah (turun Yogyakarta) dengan fasilitas yang diberikan yaitu seat 2+2 dengn tuas reclining, selimut, toilet, free air mineral dan LCD TV/DVD/karaoke. Oiya harga tiket juga sudah termasuk service makan satu kali. Saya duduk di seat 5C dan teman saya si Kurnia duduk di seat 5D. Kenapa ga duduk di seat 1A & 1B alias hot seat? Karena seat tersebut sudah dibooking oleh penumpang lain dan kami beli tiketnya go show jadi dapat nomor kursinya diterima apa adanya sesuai ketersediaan.

Seat 2+2 with reclining

Free air mineral 600ml

Stopkontak dirak bagasi

Pas jam 4 sore, telat 1 jam dari jadwal, bus diberangkatkan menuju Surabaya melewati pinggiran jalan kota Bandung yang sempit. Sepanjang perjalanan sebelum Cileunyi banyak mengalami hambatan yaitu kemacetan jalanan akibat traffic light, ditambah berbarengan pula sama jam pulang kerja. Sampai Cileunyi bus mampir ke agen untuk menaikkan penumpang, kemudian bus berangkat dan berhenti kembali menaikkan penumpang di agen Rancaekek.

Agen Rancaekek

Selepas itu supir langsung menginjak pedal gas menuju Tasikmalaya, disinilah perfoma bus diuji melewati tanjakan turunan dan belokan tajam sepanjang perjalanan. Turunan Nagreg, tanjakan Bandrek, dan tikungan Malangbong berhasil dilewati. Dalam perjalanan bus yang jalan searah dengan bus kami hanya Primajasa dan Budiman. Pemandangan sore itu sangat menawan, dikiri dan kanan jalan diapit oleh perbukitan kecil dengan suasana yang asri. Dipinggir jalan juga banyak toko kelontong yang menjual oleh-oleh produk lokal.


Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, akhirnya jam 8 malam tiba di terminal Indhiang Tasikmalaya. Dari sini lumayan banyak penumpang yang naik sehingga okupansi bisa dibilang nyaris penuh. Berangkat meninggalkan Tasik, perjalanan masih sama seperti sebelumnya, banyak tanjakan dan turunan serta belokan. Pemandangan disekitar sangat gelap, hanya terlihat warung dan hutan-hutan saja. Melewati Ciamis, jalanan dikota ini relatif sepi seperti jam 12 malam, padahal waktu masih menunjukkan setengah 9an. Selang 1 jam an, tepatnya pada pukul setengah 10 malam lewat dikit masuklah bus di Agen Banjar.

Dari sini saya tertidur dan bangun-bangun bus melewati wilayah kabupaten Banyumas. Jalanan berkelok sana-sini dan keadaan yang sangat sepi membuat saya kembali menarik selimut dan tidur kembali. Bangun-bangun bus melewati perlintasan Kereta Api Randegan, dari sini jalanan cenderung datar tapi bergelombang, tak jarang bus menghajar lubang karena jalur lintas selatan banyak kondisinya yang rusak-rusak.
Sepanjang perjalanan beriringan juga dengan bus malam dari Jakarta menuju Yogyakarta seperti Murni Jaya, Rosalia Indah dan Putera Mulya.

Membututi bus Murni Jaya

Jam 1 dini hari bus akhirnya masuk di Rumah Makan Lestari yang berada di wilayah Karanganyar, kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Rumah makan ini juga bersebelahan dengan rel kereta dan stasiun KA Karanganyar. Service makan dilakukan selama 30 menit dan menu makan yang tersedia adalah nasi putih, potongan ayam goreng, tempe orek, sayur labu, mentimun dan sambal, ditemani juga oleh segelas teh hangat manis. Pada pukul setengah 2 bus kembali berangkat dan lagi-lagi bus kami konvoi berbarengan dengan bus malam Jakartaan.

Service makan RM Lestari Kebumen

Bus Rosalia Indah melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta

Suasana parkiran

Karena jam sudah tidak bisa diajak kompromi lagi akhirnya saya kembali menarik selimut dan tertidur kembali. Bangun-bangun bus sudah melewati daerah Wates, petanda sebentar lagi akan memasuki kota Yogyakarta. Sebelum turun saya bertemu sama salah 1 orang yang ternyata penyuka bus juga, dia naik dari Tasikmalaya dan akan turun di Yogyakarta. Selanjutnya dia bersama 2 kawannya akan melanjutkan perjalanan menuju Malioboro.

Dan tepat pukul setengah 4 subuh kami sampai di terminal Giwangan Yogyakarta. Pasti ada yang bertanya kenapa tujuan saya yang awalnya Solo tapi turunnya di Yogyakarta? Alasannya adalah karena bus Sugeng Rahayu Cepat ini akan ngetem dulu puluhan menit, sehingga waktu tempuh kami bisa molor. Setelah turun saya dan teman saya si Kurnia langsung berpamitan dengan 3 teman baru kami. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju Malioboro dengan ojek online, kami lanjut ke Solo dengan bus Sugeng Rahayu AC Tarip Biasa.

Tiba di terminal Giwangan Yogyakarta

Estafet Sugeng Rahayu AC Tarip Biasa

Dan akhirnya kami tiba di terminal Tirtonadi Solo tepat pada pukul 5 pagi, setelah turun dari bus tak lupa foto-foto bus yang ada di tempat pemberangkatan bus sisi timur. Dan pada pukul setengah 6, bus Sugeng Rahayu Cepat yang tadi kami naiki baru masuk. Nggak kebayang berapa lama bus tersebut berhenti di terminal Giwangan. Kami bertemu lagi dengan crew dan saling tertawa. Sehabis itu kami istirahat sebentar sembari menunggu teman dari Madiun dan berkumpul bersama. Dan bus Sugeng Rahayu baik yang Patas maupun ATB yang tadi naiki berhenti sebentar sembari menunggu waktu berangkat menuju tujuan akhir Surabaya.

Jam 5 pagi mendarat di terminal Tirtonadi Solo

Jam setengah 6 pagi, bertemu kembali dengan bus yang kami sebelumnya naiki sampai Yogya

Kesimpulannya, walau masih berstatus sebagai pemain baru, namun sangat mudah beradaptasi dengan geografis dan kontur jalan. Berani selap-selip dijalur berbelok, merupakan skill yang sangat dibutuhkan untuk melibas seluruh trek yang ada di bumi Priangan ini. Soal fasilitas dan kenyamanan, walau bus yang saya naiki adalah bus cadangan, tapi kebersihan dan kelengkapan masih sangat bagus, seperti kursi yang empuk, lantai yang bersih, selimut yang harum dan ruang kabin yang wangi. Bahkan yang menjadi point plus adalah tersedianya stopkontak dirak bagasi atas. Dibalik kelebihan pasti ada kekurangan, untuk service makan saya akui enak dan pas, hanya saja lokasi rumah makan ini terlalu jauh sehingga penumpang dari Bandung mau nggak mau harus menahan lapar sampai tiba rumah makan. Tapi ini masih dimaklumi juga karena penumpang bisa membeli jajanan jika bus singgah di terminal. Oiya penunpang juga bisa memilih opsi apakah mereka ikut makan atau tidak. Sebagai contoh penumpang Bandung-Yogya tanpa makan harga tiket cuma 120 ribu rupiah, sedangkan plus makan menjadi 135 ribu rupiah.

Semoga Sugeng Rahayu Cepat Bandung-Surabaya semakin digemari oleh masyarakat dan bisa menjadi pilihan alternatif menikmati serunya jalur lintas selatan Jawa Barat hingga Jawa Tengah dan Timur.


Travel with Pleasure bersama Sugeng Rahayu

Senin, 13 Agustus 2018

GIIAS 2018

Pameran otomotif berskala internasional, GIIAS 2018

Gaikindo Indonesia International Auto Show atau yang biasa disingkat menjadi GIIAS adalah perhelatan akbar mobil-mobil baru dan konsep yang dipamerkan di Indonesia Convention Exhibition BSD City dari tanggal 2 hingga 12 Agustus 2018. Dengan harga tiket Rp 50.000 pada hari biasa dan Rp 100.000 pada hari libur kita bisa menikmati seisi pameran secara lengkap.

Mobil masa depan Toyota & commercial Toyota Sienta

Selain mobil dari pabrikan merk dunia, dihadirkan juga bus-bus anyar yang tak kalah menarik dari berbagai booth dan karoseri. Pada ajang pameran bersandar internasional ini dihadirkan kurang lebih 14 bus dengan ciri khas tersendiri. Berikut bus-bus yang ada dipameran

Lokasi pameran berisi bus dan kendaraan niaga berada di hall 3 - 3A



Booth Isuzu
Di booth ini dipajang bus sekolah menggunakan sasis Isuzu NQR71. Bus buatan karoseri Tentrem dengan bodi Venom ini memiliki tampilan yang sangar, terlihat dari bentuk lampu depan yang memiliki sorot tajam. Lampu ini juga dipakai pada produk new Maxx HDD. Jika dilihat tampilan depan Tentrem Venom ini mirip sama tokoh utama di film dengan nama judul yang sama.




Di interiornya terdapat keunikan yaitu seatnya menggunakan format 2-2 dengan bahan beludru biru, berbeda dengan kebanyakan bus sekolah pada umumnya yang memakai format memanjang kayak angkot dan seat berbahan kulit.



Selain bus sekolah, adapula microbus dengan sasis Isuzu Elf NHR 55, bus ini bisa digunakan sebagai bus pariwisata, shuttle, atau travel.



Booth Hino
Bergeser ke booth Hino, disini bertemu dengan sebuah bus kecil yang imut dengan nama Hino Poncho-EV. Bus ukuran medium ini merupakan bus listrik buatan Hino yang langsung diimpor utuh dari Jepang. Bus yang di negara asalnya berdinas sebagai angkutan kota dan pedesaan ini menggunakan motor listrik sebagai sumber tenaganya yang didukung dengan baterai Lithium-Ion berkapasitas 30 kWh.





Dibelakang bus Hino Poncho-EV terdapat bus Harapan Jaya berbodi Tentrem Avante HDD dengan chassis Hino RN285 automatic transmission. Bus yang memiliki transmisi pintar ini merupakan jawaban atas masalah yang sering dihadapi driver yaitu kelelahan ketika berkendara di jalanan yang macet.




Di eksterior tidak banyak perubahan berarti, sedangkan di interiornya, keberadaan panel antara seat terdepan dengan ruang kemudi dan kernet kini lebih anyar, ditambah kini ada Jendela kecil yang berada diundakan dekat seat terdepan.




Saat masuk pertama kali langsung disambut oleh mewahnya kursi kulit buatan Rimba Kencana, dilengkapi leg rest menambah nilai nyaman. Di arm restnya tersedia lubang USB charger yang bisa digunakan bilamana ingin mengecas handphone. Selain di arm restnya, di rak bagasi juga tersedia stopkontak jika kabel cassan handphonenya bukan tipe USB.





Booth Adiputro
Sebelah booth Hino terdapat booth karoseri asal Malang yaitu Adiputro Wirasejati, dan model yang jadi flagship disini adalah Jetbus3 Ultra High Deck. Berbeda dengan Jetbus Jetbus kebanyakan, unit UHD ini mengusung tema dek ultra tinggi dengan mengutamakan kapasitas bagasi super luas dan daya tampung penumpang yang banyak. Didukung dengan sasis Mercedes Benz OC500RF 2542, bus dengan tinggi 4 meter ini memiliki perubahan minor yang tampak lebih segar.



Perubahan yang terlihat adalah penggunaan topi baru, berbeda dengan Jetbus3 sebelumnya yang polos, topi pada Jetbus UHD3 ini memiliki desain lebih bergurat. Tidak sampai disitu, lampu senja yang berada di fog lamp kini lebih segar dengan bentuk seperti bumerang, beda dengan pendahulunya yang berupa garis sejajar dibawah fog lamp. Yang unik dari Jetbus UHD3 ini adalah penggunaan pintu geser yang kini bukaanya mengarah kedepan, bukan kebelakang seperti kebanyakan bus-bus di Indonesia.



Memasuki interior, didepan pintu disambut oleh kehadiran ruang kemudi dan tepat disebelahnya terdapat tangga menuju dek atas. Di dek atas ini ada yang unik, baris terdepan memiliki posisi yang lebih tinggi daripada baris belakangnya. Yang segar, kini lubang louver ac bus tampil lebih modern, lengkap dengan lampu baca, dan sudah ditanamkan juga lubang USB charger buat pengisi daya handphone.



Selain produk big busnya, Adiputro juga menghadirkan 3 unit lain yaitu all new setra Jetbus MD3+, Jetbus Jumbo3+ dan Jetbus Big Jumbo3+.

Jetbus Jumbo3+
Pict @adiputro_official

Jetbus HD +
Pict @adiputro_official



Booth Laksana
Didepan booth Adiputro terdapat booth asal Ungaran, Jawa Tengah, bukan lain adalah booth Laksana. Disini dipajang 4 bus, namun yang paling menarik adalah kehadiran Legacy SR2 double decker. Bus dengan 2 lantai ini sukses menjadi pusat perhatian karena desain bus ini berbeda dengan bus-bus tingkat yang sudah beredar sebelumnya. Muka depan yang sangar, bentuk bumper yang tajam, serta desain bodi samping yang beralur membuat tampilan bus benar-benar modis ala bus Eropa. Ditambah logo Laksana berukuran besar menghiasi sisi samping bagian belakang bus ini.



Yang unik adalah lampu sein dan hazzardnya memiliki kedap-kedip ala Jetbus3 yaitu mengalir dari dalam ke luar. Tak hanya bagian depan, bagian belakang juga disertain lampu sein yang mengalir, tepatnya lampu yang melengkung diatas kap AC. Lampu ini juga masih 1 tempat dengan penempatan night lamp yang melintang dari ujung ke ujung.




Memasuki interior, dek bawah memiliki keunikan yang berbeda dari dek bawah bus tingkat pada umumnya, lantai di dek ini di atas tempat duduknya posisi lebih tinggi dikarenakan ada gundukan yang (mungkin) berfungsi sebagai kompartemen menaruh barang. Didepan pintu masuk persis terdapat juga mini coffe yang berfungsi untuk menyeduh kopi atau air panas, dan letaknya bersebelahan dengan toilet.

Pict @FotografiBusIbukota

Naik ke lantai 2, seperti biasa, pemandangan bus dari sini sangat luas. Di seat paling depan terdapat sunscreen disisi kiri dan kanan agar penumpang bisa mengatur silau nggaknya dari pancaran sinar dari luar. Di dashboardnya juga tersedia cup holder sebagai tempat meletakkan botol atau gelas.




Selain Legacy SR2 double decker, ada juga 3 produk lagi yang menghiasi booth Laksana, yaitu grand new Tourista, new Legacy SR2 HD Prime minor change, dan Legacy SR2 export unit. Dibelakang SR2 doubledeck, ada medium bus grand new Tourista. Bus berukuran sedang ini ganti model tepat pada perayaan ulang tahun ke-40 karoseri Laksana. Desain bus ini menyerupai SR2 versi mini.


Disebelah Tourista, ada SR2 export unit. Jadi bus ini merupakan unit yang akan diekspor ke negara kepulauan Fiji di Samudera Pasifik sebagai bus pariwisata disana. Uniknya bus ini adalah unit ke 200 yang telah Laksana ekspor secara berkala.





Dan didepan SR2 export unit ini ada SR2 HD prime minor change. Perubahan pada bus ini adalah ukuran topi yang membagi kaca depan ini sedikit diturunkan. Dan dibelakangnya juga dipasangkan night lamp yang melintang dari kiri ke kanan diatas kisi-kisi mesin, lengkap dengan lampu sein dan hazzard yang mengalir saat menyala. 1 hal yang spesial, unit yang telah sold to PO Manhattan ini adalah unit test guling saat masih berwujud rangka yang dilakukan oleh karoseri Laksana sebagai tolok ukur kekuatan rangka bodi yang rigid, kuat, dan aman.


Pict @nanug995



Booth Tentrem
Tepat disamping booth Adiputro, hadir pula booth yang juga berasal dari kota Malang yaitu booth Tentrem. Di stand ini bus yang dihadirkan ada 2, yaitu Avante big bus dan Venom medium bus. Yang menjadi sorotan adalah kehadiran Avante SHD PO Bintang Utara Putera. Bus dengan warna dasar hitam merah ini begitu nyentrik karena menggunakan sasis premium Mercedes Benz OC500RF 2542 namun kelas yang disandang adalah Economy Luxury non AC. Bus dengan kaca geser ini menjadi buah bibir dikalangan busmania karena sasis yang biasanya dipasang pada bus-bus Super Eksekutif ini dipakai sebagai bus Ekonomi tanpa AC.




Di eksterior Tentrem Avante SHD tronton ini, sama seperti produksi sebelumnya, hanya saja kini lampu sein dan hazzardnya sama seperti Adiputro Jetbus3 yaitu kedap-kedip mengalir dari dalam keluar, tidak hanya lampu sein depan, sein belakang juga sama dan memiliki alur membentuk huruf C. Masuk ke interior, langsung disambut dengan kehadiran seat super besar buatan Rimba Kencana dengan formasi 2-1 pada 4 baris pertama dan formasi 2-2 pada baris ke 5 sampai belakang.



Seat yang juga dimiliki pada Super Luxury Harapan Jaya ini sangat nyaman karena terbuat dari bahan material berkualitas tinggi, bahkan seat ini juya dilengkapi meja makan yang tersembunyi dibalik arm restnya. Tapi seat ini hanyalah buat kebutuhan display pameran saja. Saat balik ke karoseri dan siap dinas perdana nanti, akan disetting ulang format seatnya menjadi standar kelas Ekonomi.


Di sebelah big bus Avante ini ada medium bus yaitu Tentrem Venom milik PO Satria Muda. Desain bodi sama seperti yang tadi dijelaskan di booth Isuzu yang bus sekolah, yaitu desain muka yang sangar dan sporty didukung dengan bentuk headlamp yang tajam dan lekukan tegas pada fog lamp.



Booth Tentrem adalah booth terakhir yang mimin jajal. Dengan semakin meningkatnya minat masyarakat naik bus, turut serta mendorong karoseri untuk terus berinovasi membuat bus yang aman nyaman dan modern. Sampai jumpa pada GIIAS 2019 mendatang....